Sekolah Rabu Kapanewon Depok Angkat Jadah Tempe sebagai Warisan Budaya Lereng Merapi
- Jul 22, 2026
- KIM Depok
- Budaya, Ekonomi, Wisata
SLEMAN. Generasi keempat Jadah Tempe Mbah Carik, Angga Kusuma Arybowo, membagikan sejarah, filosofi, dan nilai budaya kuliner jadah tempe dalam kegiatan Sekolah Rabu Kapanewon Depok di Ruang PKK, Rabu (22/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman masyarakat terhadap warisan kuliner lokal yang telah menjadi identitas lereng Merapi.
Dalam pemaparannya, Angga menjelaskan bahwa jadah tempe merupakan olahan beras ketan dan kelapa yang disajikan bersama tempe bacem. Resep dan proses pembuatannya diwariskan secara turun-temurun sejak Mbah Carik hingga kini memasuki generasi keempat.
“Kuliner khas lereng Merapi tersebut tidak hanya dikenal karena cita rasanya, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal masyarakat Sleman, Yogyakarta,” katanya.
Ia menerangkan, kehidupan masyarakat lereng Merapi yang berdampingan dengan potensi bencana telah membentuk tradisi pangan yang adaptif. Jadah dipilih karena padat, mengenyangkan, dan lebih tahan lama dibandingkan nasi, sedangkan tempe bacem memiliki daya simpan lebih baik serta menjadi sumber energi. Karena itu, jadah tempe sejak lama berfungsi sebagai bekal perjalanan maupun pangan saat kondisi darurat.
“Jadah tempe bukan sekadar makanan tradisional, tetapi juga mencerminkan kemampuan masyarakat Merapi beradaptasi dengan lingkungan sekaligus menjaga warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Selain membahas filosofi, Angga memaparkan jejak sejarah jadah dan tempe dalam naskah kuno. Jadah atau jawadah telah dikenal sejak abad ke-10 Masehi, sedangkan tempe tercatat dalam manuskrip Serat Centhini sebagai bagian dari tradisi kuliner masyarakat Jawa. Ia juga menjelaskan bahwa jadah tempe pernah menjadi kudapan yang digemari masyarakat, pejuang, hingga kalangan bangsawan pada masa perjuangan kemerdekaan.
Menurutnya, perkembangan Kaliurang sebagai kawasan wisata sejak masa kolonial turut memperkenalkan jadah tempe kepada masyarakat yang lebih luas. Kuliner tersebut kemudian menjadi suguhan bagi tamu-tamu penting yang berkunjung ke kawasan Kaliurang.
“Nama Jadah Tempe Mbah Carik sendiri diberikan oleh Kanjeng Ratu Ayu Hastungkoro, istri Sri Sultan Hamengku Buwono IX, seiring kedekatan keluarga Keraton dengan kawasan Kaliurang,” paparnya.
Di sisi lain, Angga menekankan bahwa seluruh bahan utama jadah tempe berasal dari komoditas lokal, seperti beras ketan, kelapa, dan kedelai nontransgenik. Pemanfaatan bahan baku lokal tersebut tidak hanya menjaga cita rasa autentik, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi petani karena hasil panennya terserap secara langsung.
Melalui kegiatan Sekolah Rabu, peserta diajak memahami bahwa pelestarian gastronomi tidak cukup dilakukan dengan menjaga resep, tetapi juga dengan mengenalkan sejarah, filosofi, dan nilai budaya kepada generasi muda.
“Upaya ini diharapkan dapat memperkuat identitas budaya daerah sekaligus menjaga keberlanjutan kuliner autentik Yogyakarta sebagai warisan yang tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” tandasnya. (Athiful/KIM Depok)