UGM Perkuat Pengembangan AI Inklusif dan Etis di Era Transformasi Digital
- Feb 12, 2026
- KIM Depok
SLEMAN. Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Ova Emilia menegaskan komitmen perguruan tinggi dalam membangun pengembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang inklusif, etis, dan berorientasi pada kemanusiaan dalam Kuliah Umum bertajuk “Who Am (A)I? Humanity and Technology” di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK), Kamis (12/2/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Ova menyampaikan bahwa perkembangan teknologi, khususnya AI, menghadirkan peluang transformasi di berbagai sektor, namun sekaligus memunculkan tantangan baru terkait aspek kemanusiaan dan integritas akademik. Menurutnya, kemajuan AI tidak hanya membawa janji perubahan, tetapi juga menuntut kesiapan institusi pendidikan tinggi dalam menjaga nilai-nilai dasar akademik.
“Perkembangan AI selain memberikan janji perubahan juga memunculkan kekhawatiran, terutama terkait aspek humanity yang dikhawatirkan tereduksi. Tantangan etis dan integritas akademik menjadi perhatian serius di lingkungan kampus,” ujarnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab institusional, UGM telah mengambil sejumlah langkah strategis untuk memastikan pemanfaatan AI berjalan selaras dengan prinsip etika dan akuntabilitas. Pada tahun 2025, kata Ova, UGM merilis buku “Panduan Etika Akademik: Pemanfaatan Kecerdasan AI Generatif di Pendidikan Tinggi”. Dokumen tersebut menjadi pedoman resmi bagi sivitas akademika dalam menggunakan AI secara bertanggung jawab.
“Panduan ini kami hadirkan sebagai wujud komitmen menjaga integritas akademik, mengedepankan pendekatan human centered, serta memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pemanfaatan AI di pendidikan tinggi,” jelasnya.
Ova mengatakan, UGM selalu menempatkan diri sebagai pionir transformasi digital dan pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk dalam pengembangan AI sebagai instrumen baru yang mendukung kebutuhan masyarakat, dunia kerja, dan pembangunan nasional.
Perguruan tinggi, menurut Ova, memiliki peran strategis dalam memastikan teknologi tidak hanya berkembang secara teknis, tetapi juga memberikan dampak sosial yang positif dan berkeadilan.
Ia menegaskan bahwa penguatan literasi digital menjadi prasyarat penting dalam ekosistem AI. Literasi yang memadai akan menjadi instrumen kendali sekaligus membangun kesadaran tanggung jawab etis dalam penggunaan teknologi di kalangan mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan.
“Pengembangan teknologi harus diiringi peningkatan kapasitas literasi digital. Ini penting agar pemanfaatan AI tidak keluar dari koridor etika dan tanggung jawab akademik,” katanya.
Lebih lanjut, Ova menjelaskan bahwa UGM berkomitmen menguatkan konsep smart digital university dengan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi yang inklusif, humanis, dan berdampak luas. Transformasi tersebut diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan riset, tetapi juga untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan global di era AI.
Melalui pendekatan tersebut, UGM menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan penjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah akselerasi teknologi.
“Komitmen ini diharapkan dapat memperkuat kesiapan generasi muda dan masyarakat dalam menghadapi era kecerdasan artifisial secara bijak, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kepentingan publik,” tandasnya. (Athiful/KIM Depok)