Sri Rahayu, Membentuk Generasi Qur’ani Melalui Metode Ummi
- Apr 08, 2026
- KIM Depok
SLEMAN. Kiprah Sri Rahayu dalam ranah literasi keagamaan di Kabupaten Sleman merupakan manifestasi nyata dari upaya penguatan karakter bangsa. Melalui pusat kegiatan di Mushala Baitul Muhtadin, Sambilegi Kidul, Maguwoharjo, Depok, Sleman Sri Rahayu mengintegrasikan aspek ketepatan kaidah bacaan dengan pendekatan afektif yang sistematis.
“Fokus utama pengabdian kami adalah menciptakan ekosistem pendidikan Al-Qur’an yang tidak hanya mengutamakan kelancaran lisan, namun juga kedalaman adab dan kemuliaan karakter di tingkat akar rumput,” ungkapnya, Rabu (8/4/2026).
Sejak tahun 2022, Sri Rahayu mengimplementasikan metode Ummi sebagai instrumen strategis dalam proses transformasi ilmu. Penggunaan metodologi ini didasarkan pada kesadaran akan pentingnya manajemen mutu dan kualifikasi pendidik yang mumpuni.
Sri Rahayu menerapkan pendekatan “bahasa ibu” yang menitikberatkan pada kasih sayang, praktik langsung, dan repetisi. Langkah ini secara efektif mampu menjembatani kurikulum yang terstruktur dengan kebutuhan psikologis santri dalam rentang usia empat hingga dua belas tahun.
“Pendidikan Al-Qur’an adalah fondasi integritas; setiap hukum tajwid yang benar merupakan langkah taktis menuju keteraturan berpikir dan bertindak,” katanya.
Peran Sri Rahayu melampaui batas-batas teknis pengajaran. Sebagai salah anggota Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Depok Raya, Sri Rahayu memposisikan literasi Al-Qur’an sebagai bagian vital dari pembangunan sumber daya manusia di daerah.
Kontribusi nyata terlihat pada peningkatan ketelitian santri dalam memahami hukum ghoroib serta penguatan disiplin sosial di lingkungan masyarakat.
Sri Rahayu membuktikan bahwa sinergi antara metode yang kuat dan integritas pengajar adalah kunci utama dalam menciptakan pembelajaran yang aktif dan motivatif. “Komitmen kami bukan sekadar mencetak individu yang mampu membaca, melainkan membentuk pribadi yang sanggup memuliakan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup,” ujar dia.
Konsistensi Sri Rahayu dalam menjaga standar kualitas pendidikan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan minat baca Al-Qur’an di Kabupaten Sleman. Kedisiplinan dalam menerapkan kaidah ilmu tajwid menjadi cerminan dari tanggung jawab profesional dalam mencetak generasi yang cerdas dan fasih.
Sri Rahayu menegaskan bahwa visi pendidikan yang jauh ke depan dan ketulusan pengabdian merupakan pilar utama dalam membangun fondasi spiritualitas bangsa yang kokoh.
Dedikasi Sri Rahayu memberikan refleksi mendalam bahwa penguatan nilai-nilai religiositas harus berpijak pada metodologi yang akuntabel. Melalui ketegasan prinsip dan kelembutan penyampaian, Sri Rahayu berhasil mentransformasi teks suci menjadi nafas kehidupan bagi masyarakat sekitar.
“Pengabdian ini menjadi bukti bahwa standarisasi kualitas dalam pendidikan informal adalah prasyarat mutlak bagi lahirnya generasi Qur’ani yang berkualitas di masa depan,” tandasnya. (Athiful/KIM Depok)