Ruang Cendekia UII Tegaskan Puasa sebagai Disiplin Pengendalian Diri
- Mar 03, 2026
- KIM Depok
SLEMAN. Dosen Pascasarjana Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII), M. Husnaini, menyampaikan pentingnya puasa sebagai metode pengendalian diri dalam Ruang Cendekia UII yang digelar secara daring, Selasa (3/3/2026).
Dalam pemaparannya, Husnaini menjelaskan bahwa puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga, tetapi sebagai latihan komprehensif untuk membangun kedewasaan dan pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman spiritual dan etika publik di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks.
Menurut Husnaini, esensi puasa terletak pada kemampuan manusia mengendalikan diri dari hal-hal yang pada dasarnya diperbolehkan, sebagai bentuk disiplin dan ketaatan. “Puasa adalah metode untuk melatih diri agar tidak melampiaskan keinginan secara berlebihan. Islam mengajarkan pengendalian, bukan pelampiasan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan puasa tidak hanya diukur dari aspek fisik, melainkan juga dari kemampuan menjaga ucapan, pikiran, dan perilaku. Mengutip hadis Nabi Muhammad, Husnaini mengingatkan bahwa seseorang dapat berpuasa tanpa memperoleh nilai spiritual apabila tidak mampu menahan diri dari perbuatan yang merusak makna ibadah tersebut.
Husnaini juga menjelaskan perbedaan konsep shiyam dan shaum. Shiyam merujuk pada kewajiban menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri selama Ramadan, sedangkan shaum dimaknai sebagai pengendalian diri dari ucapan dan tindakan yang tidak bermanfaat.
“Kewajiban shiyam dilaksanakan sebulan penuh di bulan Ramadan, tetapi nilai shaum perlu dijaga sepanjang waktu sebagai karakter hidup,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pengendalian diri merupakan fondasi kedewasaan. Individu dinilai dewasa ketika mampu menunda keinginan demi kepentingan yang lebih besar serta mengutamakan kemaslahatan bersama.
“Kedewasaan tercermin dari kemampuan menundukkan keinginan dan mendahulukan kebutuhan serta kemanfaatan,” tegasnya.
Dalam konteks kehidupan sosial, ia menambahkan bahwa puasa membentuk mental tangguh dan sikap optimistis. Setiap kesulitan dapat dimaknai sebagai proses pembelajaran yang pada waktunya akan menemukan solusi.
“Puasa mengajarkan bahwa setiap kepenatan memiliki waktu berbuka. Nilai ini relevan untuk membangun ketahanan pribadi dalam menghadapi tantangan kehidupan,” ujarnya.
Kegiatan Ruang Cendekia UII menjadi bagian dari upaya penguatan literasi keagamaan yang kontekstual dan aplikatif bagi masyarakat. Melalui forum ilmiah tersebut, diharapkan nilai-nilai spiritual tidak berhenti pada tataran ritual, tetapi terimplementasi dalam perilaku sehari-hari.
Dalam kesempatan itu, Husnaini mengajak seluruh peserta menjadikan Ramadan sebagai momentum pembentukan karakter dan peningkatan kualitas diri. Ia menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan diskusi keilmuan yang mendorong integrasi nilai keagamaan dan kehidupan sosial secara berkelanjutan. (Athiful/KIM Depok)