Pembelajaran Berbasis Karakter Kejogjaan Dorong Pengembangan Potensi Siswa Disabilitas Intelektual
- Jun 20, 2026
- KIM Depok
SLEMAN. Upaya pengembangan potensi siswa disabilitas intelektual melalui pembelajaran berbasis budaya lokal terus diperkuat di SLB Bhakti Kencana I, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman.
Melalui kolaborasi dengan Tim PKM-PM Sekar-Amarta Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), sekolah mengembangkan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai karakter Kejogjaan agar proses belajar lebih adaptif, kontekstual, dan bermakna bagi peserta didik.
Kepala SLB Bhakti Kencana I, Sardiyana, mengatakan bahwa setiap siswa memiliki potensi yang dapat berkembang apabila didukung dengan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan mereka.
Menurutnya, kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi langkah strategis untuk memperkaya inovasi pembelajaran sekaligus membuka ruang pengembangan potensi peserta didik secara lebih optimal.
“Anak-anak memiliki kemampuan dan potensi yang berbeda-beda. Kehadiran program ini menjadi kesempatan yang baik untuk mengembangkan pendekatan pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka, sekaligus memperkuat karakter melalui budaya lokal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya, Jumat (19/6/2026).
Berdasarkan hasil pengamatan di sekolah, siswa menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap pembelajaran yang melibatkan pengalaman langsung, media visual, aktivitas seni, musik, dan ritme.
“Potensi tersebut menjadi modal penting untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik sekaligus mendukung perkembangan kemampuan kognitif, sosial, dan kemandirian peserta didik,” paparnya.
Ketua Tim PKM-PM Sekar-Amarta, Lituhayu Sasikirana, menjelaskan bahwa program yang dikembangkan berangkat dari potensi yang telah dimiliki siswa dan sekolah. Oleh karena itu, pembelajaran dirancang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga penguatan karakter dan pengalaman belajar yang dekat dengan keseharian siswa.
“Kami melihat banyak potensi yang selama ini telah tumbuh di lingkungan sekolah. Melalui integrasi budaya lokal dan karakter Kejogjaan, kami berharap siswa dapat belajar dengan cara yang lebih konkret, menyenangkan, dan mudah dipahami sesuai karakteristik masing-masing,” katanya.
Program Sekar-Amarta mengintegrasikan nilai-nilai Pendidikan Khas Kejogjaan, yakni Sawiji, Greget, Sengguh, dan Ora Mingkuh, melalui media pembelajaran adaptif yang memadukan unsur seni, budaya, dan aktivitas praktik langsung.
“Pendekatan tersebut dirancang untuk mengakomodasi berbagai gaya belajar siswa, baik visual, auditorik, kinestetik, maupun taktil,” katanya.
Selain mendukung peningkatan kemampuan kognitif, penguatan karakter Kejogjaan diharapkan dapat membantu siswa membangun kepercayaan diri, kemandirian, semangat belajar, serta kemampuan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.
“Nilai-nilai budaya lokal juga menjadi sarana untuk mengenalkan identitas dan kearifan daerah kepada peserta didik sejak dini,” tegasnya.
Melalui sinergi antara sekolah dan perguruan tinggi, program ini diharapkan dapat menghadirkan model pembelajaran yang lebih inklusif dan berkelanjutan, sekaligus membantu siswa disabilitas intelektual mengembangkan potensi terbaik yang mereka miliki. (Athiful/KIM Depok)