Muhammad Fakhri Avaqo, Garda Terdepan Pelayanan Gizi Masyarakat Sleman

  • Feb 08, 2026
  • KIM Depok

SLEMAN. Kabupaten Sleman menjadi salah satu daerah yang aktif menguatkan implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui kinerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). 

Di balik operasional dapur gizi yang melayani ribuan penerima manfaat tersebut, terdapat sosok muda yang memikul tanggung jawab besar, yakni Kepala SPPG Gamping Banyuraden 2, Muhammad Fakhri Avaqo.

Sebagai Kepala SPPG, Avaqo, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa tanggung jawab utamanya adalah memastikan pelaksanaan MBG berjalan selaras dengan regulasi serta mengedepankan prinsip keamanan pangan. 

“Saya sangat menyadari bahwa posisi kepala SPPG adalah ujung tombak keberhasilan program ini. Setiap porsi makanan yang disajikan merupakan amanah besar dari negara untuk menyiapkan generasi Indonesia Emas 2045,” ujarnya, Minggu (8/2/2026).

SPPG Gamping Banyuraden 2 berlokasi di Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, dengan kapasitas layanan hingga 3.000 penerima manfaat dan jangkauan distribusi terjauh sekitar enam kilometer. 

Saat ini, unit layanan tersebut melayani 1.236 penerima manfaat dengan dukungan 30 relawan, serta waktu pengantaran maksimal dua jam sejak makanan diproduksi.

Avaqo mengungkapkan bahwa pembentukan karakter kepemimpinannya tidak terlepas dari pendidikan dasar militer dan pelatihan manajerial yang dijalaninya di Rindam IV Diponegoro Magelang selama tiga bulan. 

“Kami ditempa secara fisik dan mental, dibangun kedisiplinan, integritas, serta loyalitas terhadap negara. Bekal inilah yang menjadi fondasi dalam memimpin SPPG di daerah,” katanya.

Dalam operasional harian, tantangan utama yang dihadapi SPPG adalah ketepatan waktu produksi dan distribusi makanan. Menurut Avaqo, hal tersebut dipengaruhi oleh karakter relawan yang sebagian besar merupakan warga sekitar dan bukan tenaga profesional di bidang kuliner. 

“Kami terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan sistem kerja agar setiap divisi dapat bekerja presisi dan tidak menimbulkan efek domino keterlambatan,” jelasnya.

Komitmen terhadap standar gizi dan keamanan pangan menjadi perhatian utama SPPG. Seluruh menu disusun oleh ahli gizi sesuai pedoman Badan Gizi Nasional (BGN) dan diawasi secara berlapis sejak penerimaan bahan baku hingga pemorsian. 

“Kami juga mengedukasi penerima manfaat untuk melakukan cek organoleptik secara mandiri, memastikan makanan aman sebelum dikonsumsi,” tambahnya.

Lebih dari sekadar pelayanan gizi, SPPG Gamping Banyuraden 2 diarahkan sebagai penggerak ekonomi lokal. Avaqo menyebut pihaknya telah menjalin kerja sama dengan pelaku UMKM Pasar Gamping untuk suplai beras dan sayuran, serta petani salak di wilayah Turi dan Tempel. 

“Kami ingin manfaat program ini dirasakan luas, tidak hanya oleh penerima makanan, tetapi juga petani dan UMKM lokal Kabupaten Sleman,” tegasnya.

Pengalaman paling berkesan bagi Avaqo adalah saat bertemu langsung dengan anak-anak penerima manfaat. 

“Mendengar ucapan terima kasih dan masukan dari mereka memberi kepuasan batin yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata,” tuturnya.

Alumnus Prodi Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini berharap masyarakat Kabupaten Sleman turut mendukung dan mengawal keberlanjutan program MBG. 

“Program ini sangat strategis karena berdampak pada gizi, lapangan kerja, dan ekonomi lokal. Namun keberhasilannya membutuhkan dukungan semua pihak agar manfaatnya benar-benar optimal bagi Kabupaten Sleman,” pungkasnya. (Athiful/KIM Depok)