Ketika Tokoh Menjadi Cerita, Kisah Sejarawan Muda Sleman
- Jan 12, 2026
- KIM Depok
SLEMAN. Di tengah derasnya arus informasi instan, Haidar Musyafa memilih jalan yang tidak populer namun krusial, yaitu merawat ingatan bangsa melalui penulisan biografi dan sejarah tokoh nasional.
Lahir di Sleman pada 29 Juni 1986, Haidar tumbuh sebagai pembaca tekun dan penulis yang gelisah melihat sejarah kerap dipahami secara dangkal, hanya sebatas nama dan tanggal, tanpa menyentuh nilai perjuangan di baliknya.
Kegelisahan itu menjadi fondasi pilihannya menekuni genre novel biografi dan sejarah. Ia memandang sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sumber keteladanan yang relevan lintas zaman.
“Selama ini sejarah hanya diajarkan di permukaan dan dianggap kurang menarik. Padahal, sejarah menyimpan nilai hidup yang sangat penting bagi generasi muda,” ujarnya, di Kragilan XIV, Sidoluhur, Godean, Senin (12/1/2026).
Kesadaran itu kian menguat melalui diskusi intens bersama mahasiswa dan anak-anak muda yang sering berdialog di rumahnya. Percakapan tentang tokoh-tokoh besar bangsa, dari Kiai Ahmad Dahlan hingga AR Fachruddin membuka fakta bahwa banyak generasi muda mengenal nama, tetapi miskin pemahaman tentang jalan hidup dan nilai perjuangan para pendahulu. Dari sanalah Haidar memutuskan menulis biografi tokoh bangsa dengan pendekatan naratif agar sejarah tidak terasa berat, melainkan hidup dan membumi.
Dalam praktiknya, menulis biografi adalah kerja panjang dan melelahkan. Haidar melakukan riset lapangan, wawancara dengan tokoh atau ahli waris, menelusuri lokasi-lokasi bersejarah, serta mencocokkan cerita tutur dengan dokumen dan sumber kepustakaan.
“Menulis sejarah itu menguras tenaga, pikiran, bahkan biaya. Tapi justru di situlah tantangannya. Saya banyak belajar tentang nilai hidup dan perjuangan manusia,” tuturnya.
Tantangan terbesar justru terletak pada menjaga idealisme. Haidar berpegang pada prinsip bahwa biografi harus ditulis secara manusiawi, menampilkan sisi terang dan gelap tokoh secara proporsional. “Saya ingin menghadirkan tokoh apa adanya, bukan sekadar versi ideal. Jika hanya diminta menulis sisi positif, saya lebih memilih mundur,” tegasnya. Baginya, kejujuran historis adalah syarat utama agar sejarah tetap mendidik.
Sejumlah karya telah ia hasilkan, antara lain biografi Kiai Ahmad Dahlan, Buya Hamka, Haji Agus Salim, Tjokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, hingga Sultan Hamengku Buwono IX. Di antara semuanya, penulisan biografi Sultan HB IX menjadi tantangan terberat karena kompleksitas tokoh dan konteks sejarahnya. Namun kerja keras itu berbuah sambutan luas dari masyarakat.
Melalui karya-karyanya, Haidar membawa pesan yang jernih dan konsisten. “Bangsa ini tidak boleh melupakan sejarahnya. Dengan mengenal kehidupan dan perjuangan tokoh bangsa, kita bisa mengambil hikmah untuk meneruskan perjuangan mereka dalam mengisi kemerdekaan,” ujarnya.
Di tengah dunia yang serba cepat dan serba singkat, kiprah Haidar Musyafa menjadi penegasan bahwa sejarah tetap relevan, selama dituturkan dengan jujur, hidup, dan bertanggung jawab. (Athiful/KIM Depok)