Indonesia Berpeluang Menjadi Kekuatan Utama AI Dunia 2030

  • Feb 12, 2026
  • KIM Depok

SLEMAN. Indonesia dinilai memiliki prospek kuat untuk tampil sebagai salah satu kekuatan utama kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dunia pada 2030 dan periode setelahnya. 

Hal tersebut disampaikan Manajer Hubungan Pemerintah dan Kebijakan Publik Google Indonesia, Agung Pamungkas, dalam AI Summit 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada, Kamis (12/2/2026).

Dalam paparannya, Agung menjelaskan bahwa ekonomi digital Indonesia menunjukkan pertumbuhan dua digit secara konsisten di berbagai sektor. 

“Berdasarkan proyeksi terbaru, nilai ekonomi digital nasional pada 2030 diperkirakan berada pada kisaran US$180 miliar hingga US$340 miliar, meningkat signifikan dibandingkan estimasi awal yang masih di bawah US$100 miliar,” katanya.

Ia menyampaikan bahwa laju pertumbuhan tersebut berpotensi berlipat dalam lima tahun mendatang, dengan kontribusi tidak hanya dari sektor perdagangan elektronik, tetapi juga transportasi, perjalanan daring, dan media digital yang terus berkembang.

Dari sisi adopsi teknologi, penggunaan aplikasi berbasis AI di Indonesia pada 2025 meningkat lebih dari 127 persen dibandingkan tahun sebelumnya, tertinggi di Asia Tenggara. 

“Peningkatan ini didorong oleh tingginya partisipasi pengguna, kebutuhan personalisasi layanan, serta semakin luasnya pemanfaatan fitur AI dalam aktivitas sehari-hari,” ungkap dia.

Hasil survei yang dipaparkan menunjukkan sekitar 80 persen pengguna internet di Indonesia berinteraksi dengan fitur AI setiap hari. Sebanyak 68 persen aktif memanfaatkan chatbot, sementara 50 persen mengharapkan AI dapat membantu mempercepat proses pengambilan keputusan.

“Di sini peran AI diarahkan untuk mendukung efisiensi dan produktivitas, namun keputusan strategis tetap menjadi kewenangan manusia. Teknologi berfungsi sebagai alat bantu yang memperkuat kualitas proses kerja dan layanan,” jelasnya.

Kesiapan sumber daya manusia juga menunjukkan perkembangan positif. Lebih dari 70 persen pekerja di Indonesia telah memanfaatkan AI dalam pekerjaan mereka. Lebih dari separuh responden menyatakan minat untuk memperdalam kompetensi AI, dan sekitar 40 persen berencana mengikuti pelatihan lanjutan. 

“Tingkat pendaftaran pelatihan AI generatif di Indonesia tercatat 3,4 kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara lain di kawasan,” jelasnya.

Sebagai bagian dari penguatan kapasitas tersebut, lanjut Agung, Google meluncurkan program Gemini Academy yang telah menjangkau lebih dari 300 ribu guru di Indonesia. Program ini mendukung pendidik dalam mengintegrasikan AI ke dalam proses pembelajaran secara kreatif, kontekstual, serta selaras dengan karakter dan budaya lokal.

Selain pengembangan kompetensi, Google juga menegaskan komitmennya dalam menciptakan ruang digital yang aman bagi anak dan keluarga. Pendekatan tersebut dilakukan melalui penerapan pengaturan keamanan secara otomatis, penyesuaian dengan tahapan perkembangan anak, serta pemberdayaan orang tua dan pendidik dalam pengawasan aktivitas digital.

Agung menjelaskan bahwa berbagai fitur perlindungan telah diterapkan, antara lain SafeSearch pada mesin pencarian, pembatasan konten dewasa di YouTube, sistem klasifikasi aplikasi di Google Play, serta kebijakan yang tidak menayangkan iklan terpersonalisasi kepada pengguna di bawah usia 18 tahun.

Selain itu, tersedia pula layanan Family Link, fitur supervised experience di YouTube, serta pengaturan digital wellbeing yang membantu orang tua mengelola waktu dan aktivitas digital anak secara lebih terukur.

“Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penguatan ekosistem AI di Indonesia tidak hanya diarahkan pada pertumbuhan ekonomi digital, tetapi juga pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan perlindungan masyarakat di ruang digital,” ujarnya. (Athiful/KIM Depok)