Aksi Ekoteologi Dorong Penguatan Kepedulian Lingkungan di Sleman

  • Feb 26, 2026
  • KIM Depok

SLEMAN. Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Depok Sleman, Sunhaji, menyampaikan pentingnya pendekatan ekoteologi dalam Aksi Ekoteologi di Masjid Mujahidin, Tempelsari, Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kamis (26/2/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Sunhaji menjelaskan bahwa ekoteologi merupakan perpaduan antara pendekatan agama dan isu lingkungan. Konsep ini mendorong penyelesaian permasalahan lingkungan melalui nilai-nilai keagamaan, dengan menempatkan pelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab iman.

Menurutnya, agama pada dasarnya mengajarkan umat untuk menghargai dan merawat bumi. “Sayangilah apa saja yang ada di muka bumi, maka kasih sayang Allah akan tercurah kepada kita semuanya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa menjaga kelestarian lingkungan tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menyangkut tanggung jawab sosial dan moral terhadap sesama serta generasi mendatang. 

Dalam konteks krisis lingkungan global, lanjutnya, kerusakan alam dipandang bukan sekadar persoalan ekologis, melainkan juga persoalan etika dan kesadaran kolektif.

“Sebagai umat beragama yang taat, kita harus memiliki kesadaran untuk menjaga alam sebagai bagian dari tanggung jawab kita terhadap ciptaan Allah,” ungkapnya.

Sunhaji juga menyampaikan bahwa Kementerian Agama Republik Indonesia telah mengeluarkan kebijakan yang mendorong penerapan prinsip-prinsip ekoteologi di lingkungan kerja kementerian dan satuan kerja di seluruh Indonesia. Kebijakan tersebut menekankan integrasi nilai-nilai keagamaan dalam upaya pelestarian lingkungan.

Implementasinya antara lain melalui penanaman pohon, pengelolaan sampah berbasis lingkungan, serta penggunaan sumber daya secara bijaksana di setiap instansi Kementerian Agama. 

“Langkah ini diharapkan menjadi contoh konkret bagi masyarakat dalam membangun budaya peduli lingkungan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa ekoteologi bukan hanya konsep teoretis, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang dimulai dari lingkungan terkecil. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pengurangan penggunaan barang konsumtif, penerapan pola hidup hemat, dan kebiasaan ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jika setiap individu berkomitmen untuk bertindak, dampaknya akan terasa di tingkat pribadi, masyarakat, hingga lebih luas,” tambahnya.

Sebagai bentuk implementasi nyata, Sunhaji mengapresiasi masyarakat yang menanam pohon di lahan rumah masing-masing. Menurutnya, langkah sederhana tersebut mencerminkan penerapan nilai ekoteologi dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan ini, kata Sunhaji, KUA Depok Sleman mendorong penguatan kesadaran kolektif masyarakat Kapanewon Depok untuk membangun budaya peduli lingkungan berbasis nilai-nilai keagamaan. 

“Diharapkan, penerapan ekoteologi tidak hanya berjalan di lingkungan instansi, tetapi juga berkembang luas di tengah masyarakat sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan,” pungkasnya. (Athiful/KIM Depok)