AI Summit 2026 Tegaskan Literasi Digital dan Etika AI sebagai Fondasi Peradaban Teknologi

  • Feb 12, 2026
  • KIM Depok

SLEMAN. Kegiatan AI Summit 2026: Who Am A(I): Humanity and Technology hasil kolaborasi ICT Watch dan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM, Kamis (12/2/2026). Forum ini menghadirkan pemangku kepentingan untuk memperkuat literasi digital sekaligus menegaskan pentingnya pemanfaatan kecerdasan artifisial berbasis nilai kemanusiaan.

Direktur Eksekutif ICT Watch Indonesia, Indriyatno Banyumurti, menjelaskan bahwa ICT Watch merupakan organisasi masyarakat sipil yang berfokus pada penguatan literasi digital, keamanan siber, dan perlindungan hak-hak digital masyarakat. Melalui berbagai program, termasuk inisiatif Internet Sehat, lembaga tersebut aktif membangun kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan ruang digital yang aman, etis, dan produktif.

Ia menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi informasi harus disertai kesadaran etis dan tanggung jawab. Menurutnya, tingkat penetrasi internet di Indonesia yang telah mencapai sekitar 80 persen menunjukkan kemajuan akses, namun belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan menghadapi risiko digital.

Indriyatno memaparkan bahwa masyarakat kini hidup dalam ruang digital yang semakin melekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, tanpa kecakapan dan kewaspadaan, ruang tersebut berpotensi menghadirkan ancaman seperti penyebaran hoaks, penipuan daring, hingga kekerasan siber. 

“Karena itu, literasi digital menjadi fondasi penting agar masyarakat mampu berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab,” katanya.

Ia menjelaskan, melalui pendekatan empat pilar literasi digital, cakap, aman, budaya, dan etika digital peserta dibekali pemahaman untuk menggunakan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab. Peserta juga diajak meningkatkan kesadaran dalam melindungi data pribadi.

“Gunakan kata sandi yang kuat, aktifkan autentikasi dua faktor, serta belajar memahami berbagai modus penipuan digital yang kian berkembang saat ini,” ungkap dia.

Sementara Dekan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Rr. Siti Murtiningsih, menekankan bahwa perkembangan kecerdasan artifisial membawa manusia pada fase peradaban yang sebelumnya sulit dibayangkan. Dalam konteks tersebut, ia mengingatkan agar rasionalitas manusia tetap terjaga dan tidak larut dalam arus globalisasi teknologi.

Menurutnya, manusia perlu mampu membedakan antara mesin yang dirancang untuk belajar dan kecerdasan manusia yang memiliki kesadaran, nilai, serta tanggung jawab moral. 

“Saya berharap, kecerdasan artifisial ini seharusnya dimanfaatkan secara bijak dan positif, mengingat perannya yang semakin luas dalam proses pembelajaran, pekerjaan, hingga pengambilan keputusan,” ujarnya.

Melalui kolaborasi antara ICT Watch dan Fakultas Filsafat UGM ini, Siti Murtiningsih berharap dapat memperkuat kesadaran kritis masyarakat terhadap perkembangan teknologi. 

“Forum ini sekaligus menjadi ruang dialog untuk memastikan bahwa transformasi digital berjalan selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan tanggung jawab sosial,” tandasnya. (Athiful/KIM Depok)