Pengajian HBM Sleman Teguhkan Dakwah Berkemajuan

  • May 23, 2026
  • KIM Depok

SLEMAN. Pengajian Hari Bermuhammadiyah (HBM) di Lapangan Sendangadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Sabtu (23/5/2026), diikuti ribuan warga Muhammadiyah dari berbagai ranting dan cabang se-Kabupaten Sleman. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan dakwah, ukhuwah, serta konsolidasi gerakan persyarikatan di tingkat masyarakat.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2005–2015, Din Syamsuddin, menyampaikan bahwa HBM merupakan tradisi keagamaan dan sosial yang terus berkembang di sejumlah daerah. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi forum pengajian, tetapi juga sarana memperkuat komitmen warga persyarikatan dalam menghidupkan nilai-nilai Islam berkemajuan.

“Hari Bermuhammadiyah menjadi ciri khas di daerah Jawa Tengah, seperti Wonosobo, Magelang, Purworejo, dan besok insyaallah ke Kebumen,” ujarnya.

Ia mengatakan, pelaksanaan HBM di Sleman menunjukkan bahwa semangat Bermuhammadiyah semakin tumbuh di tengah warga. Semangat tersebut, katanya, perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap, amal, dan pengabdian yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Menurut Din, Hari Bermuhammadiyah tidak semestinya dipahami sebatas agenda rutin bulanan. Nilai Bermuhammadiyah perlu menjadi napas kehidupan warga persyarikatan, baik dalam keluarga, lingkungan sosial, amal usaha, maupun kehidupan kebangsaan.

“Hari Bermuhammadiyah sebaiknya tidak hanya tiap bulan, tetapi tiap hari dan tiap waktu kita jadikan sebagai Hari Bermuhammadiyah,” tandasnya.

Dalam tausyiahnya, Din menekankan bahwa warga Muhammadiyah menisbatkan diri kepada perjuangan Nabi Muhammad. Karena itu, keberagamaan warga persyarikatan harus berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah, sekaligus hadir dalam bentuk amal nyata.

Ia menjelaskan, iman harus melahirkan perbuatan baik. Seorang mukmin, menurutnya, tidak cukup hanya memiliki keyakinan di dalam hati, tetapi juga perlu membuktikannya melalui karya, pelayanan, dan kepedulian terhadap sesama.

“Mukmin dan mukminah itu tidak hanya beriman dalam hati, tetapi juga beramal. Maka doa kita adalah: Allahumma ja‘alna minal mukmininal ‘amilin, Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang beriman dan beramal,” tuturnya.

Din menyampaikan, Amal Usaha Muhammadiyah yang berkembang di berbagai daerah menjadi bukti bahwa dakwah persyarikatan bergerak melalui kerja nyata. Bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat menjadi ruang pengabdian yang terus diperluas dari Sabang hingga Merauke.

Ia mencontohkan kontribusi sekolah Muhammadiyah di Papua yang telah ikut melahirkan banyak tokoh daerah. Hal tersebut menunjukkan bahwa amal persyarikatan tidak hanya bergerak di pusat-pusat kota, tetapi juga menjangkau wilayah yang lebih luas dan beragam.

Dalam kesempatan tersebut, Din juga mengajak warga Muhammadiyah menjaga mutu amal. Menurutnya, pengabdian tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi juga dari kualitas, keikhlasan, dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

“Amal-amal kita harus berkualitas sehingga doa kita menjadi Allahumma ja‘alna minal mukmininal ‘amilinal muhsinin, Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang beriman, beramal, dan berbuat ihsan,” katanya.

Selain menekankan amal, Din juga mengingatkan pentingnya persaudaraan dan toleransi dalam kehidupan umat Islam. Ia menilai persatuan umat harus dibangun dengan kelapangan dada, sikap saling menghormati, serta keteguhan memegang prinsip kebenaran.

“Ummatan wahidah adalah umat yang satu kiblat, penuh kelapangan dada, tasamuh, dan hanif, lurus dalam prinsip namun tetap toleran,” ujarnya. (Athiful/KIM Depok)