Bersih Sungai Kali Buntung Gempol: Gotong Royong 100 Warga Angkat 520 Kilogram Sampah, Wujudkan "Lestari Alamku, Lestari Desaku
- Jul 19, 2026
- KIM Depok
SLEMAN. Semangat gotong royong kembali ditunjukkan masyarakat Padukuhan Gempol, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman. Sekitar 100 warga bersama pemerintah, komunitas peduli sungai, dan berbagai pemangku kepentingan turun langsung ke aliran Kali Buntung dalam aksi "Bersih Sungai Kali Buntung Gempol, Lestari Alamku, Lestari Desaku" pada Minggu 19 Juli pukul 07.30–10.30 WIB.
Kegiatan yang diinisiasi Komunitas Kali Buntung Gempol (KKB Gempol) ini mendapat dukungan penuh dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman, Pemerintah Kapanewon Depok, Pemerintah Kalurahan Condongcatur, serta Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS). Aksi tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian masyarakat dalam menjaga kelestarian sungai dari pencemaran sampah sekaligus memperkuat budaya gotong royong di tengah meningkatnya aktivitas permukiman di kawasan bantaran sungai.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman Junaidi, S.ST., hadir langsung bersama Sasi Kirana, Kepala Seksi Pengendalian DLH Sleman, Panewu Depok Rakhmat Harinawan, S.Sos., M.Si., Plt. Lurah Condongcatur Budi Arto, S.IP., M.AP., Ketua FKSS Sleman Sugito, serta unsur masyarakat yang terdiri atas warga RT 01 dan RT 02 Padukuhan Gempol, warga RT 02 Krangkungan Padukuhan Sanggrahan, Jemaah Masjid Miftahul Jannah, Masjid Antiq Soko 7, Pemuda-Pemudi Gempol Serentak, dan masyarakat yang bermukim di sepanjang bantaran Kali Buntung.
Mengusung tema yang diambil dari penggalan lagu "Lestari Alamku, Lestari Desaku", kegiatan ini membawa pesan bahwa pelestarian lingkungan harus dimulai dari langkah sederhana, yakni menjaga kebersihan sungai dan melestarikan ekosistem di sekitarnya. Tema tersebut sekaligus menjadi harapan agar Kali Buntung kembali menjadi sungai yang bersih, sehat, dan mampu menopang kehidupan masyarakat di masa mendatang.
Selama hampir tiga jam, para peserta menyusuri aliran sungai untuk mengangkat berbagai jenis sampah anorganik seperti plastik, styrofoam, botol, dan limbah rumah tangga yang sulit terurai. Dari kegiatan tersebut berhasil dikumpulkan 65 karung sampah anorganik dengan total berat sekitar 520 kilogram. Seluruh sampah kemudian dievakuasi oleh UPT Persampahan DLH Kabupaten Sleman untuk diproses lebih lanjut.
Selain aksi bersih sungai, panitia juga menggelar sarasehan lingkungan sebagai media edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kualitas air sungai.
Dalam paparannya, Sasi Kirana menegaskan bahwa menjaga sungai tidak cukup hanya melalui kegiatan bersih-bersih sesaat, tetapi harus dibarengi perubahan perilaku masyarakat.
"Jangan membuang sampah maupun limbah cair rumah tangga langsung ke sungai tanpa melalui proses pengolahan. Masyarakat diharapkan memiliki sistem pengolahan limbah, seperti septic tank atau resapan yang memadai, sehingga kualitas air sungai tetap terjaga. Kami juga mendorong penanaman pohon di bantaran sungai untuk menjaga debit air, memperkuat tebing, dan mencegah erosi," ujarnya.
Sementara itu, Plt. Lurah Condongcatur Budi Arto, S.IP., M.AP. mengajak masyarakat menjadikan pelestarian sungai sebagai gerakan bersama yang berkelanjutan.
"Pohon-pohon di sekitar sungai jangan ditebang sembarangan karena memiliki fungsi penting menahan longsor dan menjaga ketersediaan air. Bila masyarakat membutuhkan bibit pohon, Pemerintah Kalurahan siap memfasilitasi pengajuan kepada DLH Sleman. Selain itu, mari biasakan memilah sampah dari rumah dan bersama-sama mengawasi agar tidak ada lagi pihak yang membuang sampah ke sungai secara sembarangan," tegasnya.
Ketua Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS), Sugito, menyampaikan bahwa Kapanewon Depok menjadi salah satu wilayah dengan jumlah komunitas peduli sungai terbanyak di Kabupaten Sleman.
"Di Kapanewon Depok saat ini terdapat 11 komunitas sungai dari total 32 komunitas sungai di Kabupaten Sleman. Kami berharap komunitas-komunitas ini terus menjadi motor penggerak pelestarian lingkungan, menjaga kualitas air baku, sekaligus melindungi mata air melalui kegiatan konservasi tanaman," katanya.
Panewu Depok Rakhmat Harinawan, S.Sos., M.Si. turut memberikan apresiasi atas tingginya partisipasi masyarakat.
"Kesadaran warga untuk turun langsung membersihkan sungai merupakan modal sosial yang sangat berharga. Semangat gotong royong seperti ini harus terus dipelihara karena menjaga sungai bukan hanya tugas pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat demi keberlanjutan lingkungan dan kualitas hidup generasi mendatang," ujarnya.
Gerakan pelestarian sungai tersebut sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Program Kali Bersih (Prokasih) dan penguatan komunitas peduli sungai yang menekankan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam menjaga kualitas air, mengurangi pencemaran, serta memperkuat konservasi daerah aliran sungai. DLH Sleman secara konsisten mendorong pembentukan dan penguatan komunitas sungai sebagai mitra strategis dalam pengendalian lingkungan hidup berbasis masyarakat.
Melalui aksi nyata ini, masyarakat Gempol membuktikan bahwa menjaga sungai tidak hanya menghasilkan lingkungan yang bersih, tetapi juga memperkuat kebersamaan, meningkatkan kepedulian terhadap alam, dan menanamkan tanggung jawab bersama untuk mewariskan sungai yang sehat kepada generasi mendatang. Gerakan "Bersih Sungai Kali Buntung, Lestari Alamku, Lestari Desaku" diharapkan menjadi inspirasi bagi komunitas lain di Sleman untuk terus menghidupkan budaya gotong royong dalam menjaga kelestarian lingkungan (Wasana / KIM Depok)
©️ 2026